Catatan Hati Seorang Juventini

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

“Pak itu gambar apa?”

“Itu logo klub sepakbola, No. Juventus.”

Mungkin seperti itu kira-kira sepotong percakapan gue dengan bokap ketika masih kelas 3 SD. Sekitar pertengahan tahun 2000, gue dibeliin tas ransel baru yang bisa di-request warna, gambar, dan tulisannya di bagian depan. Dulu populer banget tas semacam itu di sekolah gue. Nah, kebetulan bokap beliin gue tas warna hijau gelap yang gambarnya logo Juventus dan ada tulisan nama gue, “Averino”. Bokap memang penggila sepakbola, dan gen itu menurun ke gue. Beliau adalah seorang Milanisti, dan mungkin itu alasan dia milih gambar logo klub sepakbola (Juventus) buat dipasang di tas gue. Dan begitulah awal perkenalan gue dengan sebuah klub sepakbola terbesar di Italia yang bernama Juventus.

Era 1990-an sampai awal 2000-an, Serie-A mengalami masa kejayaan sebagai liga sepakbola terbaik sejagat. Dunia mengenal “The Magnificent Seven” yang terdiri dari Juventus, AS Roma, AC Milan, Parma, Lazio, Fiorentina, dan Inter Milan. Ketujuh klub tersebut mendominasi klasemen di dalam negeri dan bergantian mencapai final di dua kompetisi Eropa, UEFA Cup dan Champions League. Luar biasa. Apalagi timnas Italia juga sanggup mencapai final Piala Dunia 1994 dan Euro 2000.

Euforia kehebatan tim-tim Italia tersebut tentu saja sampai ke Indonesia yang penggemar sepakbolanya sangat banyak. Hak siar Serie-A di Indonesia pada waktu itu dipegang oleh salah satu televisi swasta lokal. Setiap minggu ada 3-4 pertandingan yang disiarkan langsung. Gue segera mencari jadwal tim yang logonya terpasang di tas ransel gue itu bertanding. Walaupun gue lupa siapa lawan di pertandingan pertama Juventus yang gue lihat, tapi gue selalu ingat satu nama pemain idola gue yang kelak akan menjadi legenda, Alessandro Del Piero.

Posturnya tidak tinggi, namun Del Piero mempunyai teknik, dribble, visi dan naluri mencetak gol yang luar biasa. Belum lagi dia adalah salah satu eksekutor tendangan bebas terbaik di Italia selain Sinisa Mihajlovic dan Andrea Pirlo. Bersama David Trezeguet, mereka berdua menjadi duet ujung tombak paling ditakuti di Italia pada masanya. Salah satu momen yang masih gue ingat adalah bagaimana Del Piero dan Trezeguet (juga Pavel Nedved) menjadi momok buat Real Madrid di semifinal Liga Champions 2003. Sayang di final Juventus harus kalah adu penalti dari AC Milan. Salah satu faktornya adalah absennya Nedved karena akumulasi kartu.

Di Juventus dan Del Piero, gue melihat sebuah kekuatan, ambisi untuk selalu menang, keberanian, kebersamaan, prestasi, dan yang paling utama, semangat (grinta). Semua faktor di atas sudah cukup untuk mengubah darah gue menjadi berwarna hitam-putih. Sejak saat itu gue memutuskan untuk menjadi seorang Juventini. Dan inilah sekelebat cerita bagaimana gue jatuh cinta pada Juventus untuk pertama kalinya, dan terus jatuh cinta setiap hari, sampai saat ini.

“My bond with Juventus is very strong, and I have a love for this club that goes beyond many other considerations.” – Alessandro Del Piero (2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s