Subtitle Bahasa Sunda

Seorang teman pernah nyeletuk ketika melihat saya sedang menonton film di laptop, “Gaya banget, lu, pake subtitle bahasa Inggris. Kan, ada yang bahasa Indonesia.”

Dari dulu, saya kalau nonton film bajakan-hasil-download di laptop memang terbiasa memakai subtitle bahasa Inggris. Bukannya nggak mau dimudahkan dengan subtitle bahasa Indonesia, tapi saya lebih nyaman untuk membaca subtitle bahasa Inggris biar sesuai dengan gerakan mulut pemain film dan suaranya. Pikir saya, itung-itung sekalian belajar bahasa Inggris secara otodidak.

Maka ketika mayoritas downloader film begitu akrab dengan akun Pein Akatsuki dan Lebah Ganteng sebagai pemasok subtitle, saya nggak. Saya lebih mengenal akun-akun seperti Ivandrofly, GoldenBeard, dan Luis-subs. Buat yang bingung bisa mengakses subscene.com nanti.

credit to @tahilalats

credit to @tahilalats

Ngomong-ngomong tentang subtitle sebagai alat bantu penerjemahan, saya sepertinya butuh alat semacam itu karena Tasikmalaya sekarang sudah menjadi tempat perantauan saya. Per tanggal 27 Juli 2015 kemarin, saya resmi menjejakkan kaki di kota terbesar di Priangan Timur ini untuk bekerja. Layaknya suatu daerah di Indonesia yang masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari, penduduk Tasikmalaya setiap hari berbahasa Sunda. Jadilah saya yang cuma mengerti bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Jawa ini mengalami culture shock.

Contoh saja kejadian seminggu lalu ketika saya hendak membeli bubur ayam.

Ganteng          : “Pak, buburnya satu makan disini ya.”

Tukang bubur  : “Seep, a.”

Ganteng          : *sotoy sok ngerti* “Iya, pak. Pake sambel ya.” *lanjut duduk*

Tukang bubur  : “Seep, a. Habis, habis.”

Ganteng          : “…oh, habis… Makasih, Pak.” *keluar warung dengan langkah tergontai*

Itu baru satu contoh dari beberapa percakapan absurd saya dengan masyarakat disini karena ke-sotoy-an saya. Tapi, sebulan disini lama-lama ngerti juga kosakata Sunda kayak; “punten”, “nuhun”, deui”, “pisan”, dll, walaupun masih perlu adaptasi dan belajar lagi. Intinya, sih, kalem weh da abdi mah kasep. Bener, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s