August Rush

0

Bulan Agustus kemarin mungkin jadi salah satu bulan yang baik dalam kehidupan gue.

Alasan pertama, gue (dan temen-temen lulusan STAN 2013 lainnya) akhirnya TKD juga (Tes Kemampuan Dasar -red) setelah menunggu selama lebih dari 9 bulan sejak wisuda tahun lalu. 9 bulan penuh penantian yang gue rangkum dalam sebuah puisi absurd disini akhirnya usai. Kemenpan pada awal bulan Agustus merilis pengumuman tentang nasib kami, yaitu TKD untuk lulusan STAN diadakan pada tanggal 25 – 30 Agustus 2014, sekaligus dilakukan pemberkasan pada saat yang bersamaan.

Dan 3 minggu yang sangat sibuk pun dimulai. Minggu pertama gue sibuk membuat dan menyiapkan berkas-berkas, sambil sesekali belajar (tapi bohong). Dimulai dari berkunjung ke rumah ketua RT -> ketua RW -> Kelurahan -> Polres Bekasi untuk bikin SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dan juga ke RSUD Bekasi untuk bikin Surat Sehat Jasmani, Rohani, dan Bebas Narkoba. Puji Tuhan, gue lolos semua tes. Dengan kata lain, gue adalah orang baik, sehat jasmani-rohani, bebas narkoba, dan ganteng (yang ini nggak perlu diuji karena udah bawaan lahir, thanks). Tapi sebenernya, sih, gue ngulang sekali di tes kejiwaan (tes rohani) :( Mungkin gue emang rada gila, tergila-gila sama kamu… Minggu kedua dan ketiga, setelah urusan berkas selesai, gue dedikasikan untuk belajar persiapan TKD. Singkat cerita, hari penentuan itu pun tiba…

Fyi sebelumnya, TKD ini 100 soal PG yang terdiri dari 3 macam (TWK-Tes Wawasan Kebangsaan, TIU-Tes Intelegensia Umum, dan TKP-Tes Karakteristik Pribadi), yang punya batas kelulusan dan harus diselesaikan dalam waktu 90 menit. Gue dapet giliran tes tanggal 28 Agustus, masuk di sesi 2, jam 09:40. Jujur, setengah jam pertama gue masih agak gugup dan banyak soal gue lewatin. Tapi lama-kelamaan gue mulai tenang dan bisa ngerjain sampai akhir dengan sisa waktu setengah jam. Sisa waktu itu gue pake untuk skimming sambil ngerjain soal-soal yang kelewat tadi. Puji Tuhan lagi, gue lolos dengan nilai yang (menurut gue) memuaskan.

Continue reading

Catatan Hati Seorang Juventini

0

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.

“Pak itu gambar apa?”

“Itu logo klub sepakbola, No. Juventus.”

Mungkin seperti itu kira-kira sepotong percakapan gue dengan bokap ketika masih kelas 3 SD. Sekitar pertengahan tahun 2000, gue dibeliin tas ransel baru yang bisa di-request warna, gambar, dan tulisannya di bagian depan. Dulu populer banget tas semacam itu di sekolah gue. Nah, kebetulan bokap beliin gue tas warna hijau gelap yang gambarnya logo Juventus dan ada tulisan nama gue, “Averino”. Bokap memang penggila sepakbola, dan gen itu menurun ke gue. Beliau adalah seorang Milanisti, dan mungkin itu alasan dia milih gambar logo klub sepakbola (Juventus) buat dipasang di tas gue. Dan begitulah awal perkenalan gue dengan sebuah klub sepakbola terbesar di Italia yang bernama Juventus.

Era 1990-an sampai awal 2000-an, Serie-A mengalami masa kejayaan sebagai liga sepakbola terbaik sejagat. Dunia mengenal “The Magnificent Seven” yang terdiri dari Juventus, AS Roma, AC Milan, Parma, Lazio, Fiorentina, dan Inter Milan. Ketujuh klub tersebut mendominasi klasemen di dalam negeri dan bergantian mencapai final di dua kompetisi Eropa, UEFA Cup dan Champions League. Luar biasa. Apalagi timnas Italia juga sanggup mencapai final Piala Dunia 1994 dan Euro 2000.

Euforia kehebatan tim-tim Italia tersebut tentu saja sampai ke Indonesia yang penggemar sepakbolanya sangat banyak. Hak siar Serie-A di Indonesia pada waktu itu dipegang oleh salah satu televisi swasta lokal. Setiap minggu ada 3-4 pertandingan yang disiarkan langsung. Gue segera mencari jadwal tim yang logonya terpasang di tas ransel gue itu bertanding. Walaupun gue lupa siapa lawan di pertandingan pertama Juventus yang gue lihat, tapi gue selalu ingat satu nama pemain idola gue yang kelak akan menjadi legenda, Alessandro Del Piero. selengkapnya

Sebuah Puisi Tentang Kita, Gais!

2

teman-teman mahasiswa kini mulai bersikap skeptis.
dari para aktivis yang kritis,
sampai yang di kampus dulu hanya seorang apatis,
semua mengoceh ke tipstan bernada sinis.
rumor “dalam waktu dekat” cuma dianggap janji manis.
yang katanya setelah pilpres paling logis,
ternyata sampai sekarang masih harus realistis.

memang keadaan ini sungguh dilematis.
dari oktober tahun lalu sudah resmi lulus tertulis,
tapi sampai sekarang belum ditempatkan di posisi strategis.
hampir 9 bulan sudah menunggu dengan optimis.
namun kesabaran pun akhirnya mulai terkikis.
hati rasanya sudah teriris-iris.
kedua mata menolak ingin menangis.
yah… namanya juga sekolah gratis.

mengisi waktu sebenarnya bisa dilakukan dengan bermacam jenis.
ada yang les bahasa perancis,
pun belajar sambil berlibur di kampung inggris.
ada yang ngaudit sampai angkanya harus sama persis.
ada yang jadi abang-none bak selebritis nan eksis.
ada pula yang fokus berbisnis biar dagangan makin laris. selengkapnya

Doppelganger

2

Buat yang pernah denger dan udah tahu arti dari judul di atas, tenang, jangan di-close-tab dulu. Cerita seremnya ada di bagian akhir. Buat yang belum pernah denger dan nggak tahu, doppelganger artinya bayangan diri sendiri atau kembaran dari seseorang. Konon, setiap orang memiliki bayangan diri yang selalu menemaninya. Walaupun bentuk fisiknya sama, doppelganger biasanya memiliki sifat yang bertentangan atau lebih tepatnya bersifat jahat.

Nah, kenapa gue kasih judul postingan ini dengan doppelganger? Jadi gini, gue terkadang ingin bisa melihat diri sendiri dari sisi orang lain, atau kacamata orang lain. Kayak gimana sih seorang Averino itu. Kelakuannya seperti apa, pribadinya apakah menyenangkan, sikapnya apakah sopan, dan apakah dia sebenarnya diterima di dalam masyarakat atau tidak.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa nggak tanya saja langsung ke orang lain itu? Karena menurut gue, jawabannya terkadang nggak valid. Bukannya gue nggak percaya, tapi kita nggak tahu, kan, mereka jawab jujur atau enggak. Bahkan di sesi sharing makrab (malam keakraban -red) yang sampe nangis-nangisan pun, gue terkadang masih nggak percaya sepenuhnya. Ada beberapa faktor kenapa pendapat yang terlontar mungkin tidak valid, misalnya pribadinya memang tertutup dan suka menyimpan rahasia, ada maksud terselubung, atau memang suka berbohong.

Dengan bisa melakukan hal tersebut, gue berharap bisa mengubah perilaku yang buruk dan mempertahankan perilaku yang baik, sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Iya, sebenarnya tanpa harus bisa melakukan hal tersebut, gue memang harus selalu bersikap dan bertutur kata yang baik kepada semua orang. Cieelah.

Nah, sekarang baru masuk ke bagian seremnya. selengkapnya

Membaca Yuk

2

Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang beres-beres kardus buku-buku dari kosan dulu, saya menemukan 3 buku serial My Stupid Boss. Ketiga buku itu saya beli ketika masih kuliah di STAN dulu. Dan ternyata, sudah lama sekali saya nggak beli buku lagi sejak itu.

Sewaktu saya masih kecil, apabila ditanya tentang hobi, saya pasti akan menjawab membaca. Dulu saya memang suka sekali membaca buku. Ketika belum ada internet yang memudahkan pencarian sebuah informasi seperti sekarang, salah satu jendela pengetahuan dan informasi dunia adalah media cetak seperti buku, majalah, dan surat kabar.

Beberapa jenis media cetak yang pernah dan suka saya baca :

  1. Majalah. Saya dulu termasuk pelanggan majalah Bobo, kalau nggak salah sampai lulus SD. Dari majalah yang sangat terkenal di masanya tersebut, saya banyak mendapat ilmu pengetahuan. Dulu di gudang sampai ada 2 tumpuk majalah Bobo yang tingginya masing-masing hampir mencapai 1 meter. Tapi sayang, semua sudah dijual ke tukang loak. Selain majalah Bobo, ada juga majalah Seru! yang mungkin hanya sebagian orang yang tahu. Penasaran? Coba googling aja :D
  2. Komik. Di rak buku, puluhan komik Kenji berderet lengkap dari jilid 1 sampai tamat. Ada juga komik Kungfu Boy yang original, tapi kurang beberapa jilid lagi. Selain itu, masih banyak lagi yang lain, seperti One Piece, Naruto, Doraemon, dll. 
  3. Buku. Mulai dari novel non fiksi, fiksi, sampai buku resep masakan ada tersimpan di rak buku di rumah saya. Bapak saya yang bekerja di toko buku Gramedia memang sesekali suka membawa buku gratisan dari kantornya, apapun jenisnya. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dan sekarang rak buku 4 tingkat setinggi 2 meter itu sudah penuh semua. Mungkin sudah mencapai ratusan bahkan ribuan buku kalau dihitung jumlahnya.
  4. Surat Kabar. Salah satu fasilitas yang diperoleh karyawan yang bekerja di Kompas-Gramedia group adalah mendapatkan koran Kompas gratis setiap hari. Setiap hari, Bapak saya kalau pulang kerja pasti membawa koran Kompas. Terkadang malah ditambah Warta Kota, Super Ball, dan Jakarta Post! Jadi setiap pagi, saya selalu meluangkan waktu untuk membaca koran tanggal hari sebelumnya.

selengkapnya

Kenapa Gue Harus Pergi ke Inggris?

0

Nggak perlu pakai pembukaan, berikut ini 5 alasan kenapa gue harus pergi ke Inggris.

1. Football

White Hart Lane

White Hart Lane

Menurut FIFA, Inggris merupakan negara tempat kelahiran klub sepak bola. Hal tersebut dibuktikan oleh Sheffield FC yang dibentuk pada tahun 1857 dan menjadi klub sepak bola tertua di dunia. Selain itu, English Premier League beberapa tahun terakhir ditahbiskan sebagai liga sepakbola terbaik sejagad. 2 fakta tersebut tentu saja menarik perhatian gue sebagai seorang pemuda penikmat dan penggila sepakbola.

Selain menjadi Juventini (fans berat Juventus -red), gue juga adalah pendukung (karbitan) Tottenham Hotspur. Jadi, alasan pertama kenapa gue harus pergi ke Inggris adalah untuk menonton langsung pertandingan sepakbola di tempat lahirnya, terlebih ketika Spurs yang bertanding. Gue ingin merasakan langsung atmosfir dan euforia sebuah pertandingan di stadion White Hart Lane, kandang Spurs. Old Trafford? Nggak. Gue malas berkunjung ke tempat tim yang nggak bertanding ke turnamen Eropa musim depan. *ngajak ribut*

2. Oxbridge (Oxford-Cambridge)

Oxford + Cambridge

Oxford + Cambridge

Dulu, dulu sekali selagi masih SMP, gue pernah bermimpi untuk bisa kuliah di luar negeri. University of Oxford dan University of Cambridge, dua universitas papan atas di Inggris yang sering sikut-sikutan dengan Harvard University untuk jadi nomer 1 di dunia, tentu saja menjadi destinasi gue dulu.

Memang impian tersebut tidaklah realistis karena di luar kemampuan otak gue. Ujian masuk di UI dan UGM buat ambil jurusan Kedokteran aja nggak ada yang tembus. Akhirnya sekarang gue malah pindah haluan jadi lulusan di bidang pajak. *merasa gagal sebagai anak IPA* *malah curhat*

Jadi, alasan kedua kenapa gue harus pergi ke Inggris adalah karena gue mau berkunjung ke dua kampus impian masa kecil tersebut. Gue ingin mewujudkan mimpi berkunjungnya saja, walaupun tanpa kuliah disana. #sedihbingit

3.  London Eye dan Big Ben

selengkapnya

Tips Menghadapi Kemacetan di Jakarta

0

kalo dijumlah sampai hari ini, udah hampir tiga setengah bulan gue magang di daerah Jakarta. November sampai Desember gue magang jadi marketing di PT MSD Indonesia, di daerah Sudirman. Februari sampe sekarang gue magang jadi junior auditor di Kantor Akuntan Publik (KAP) Hananta Budianto & Rekan, di daerah Kebayoran Baru.

setiap hari kerja, perjalanan gue naik motor dari rumah (Bekasi) ke kantor (atau klien) dan sebaliknya bisa memakan waktu 3 sampai 4 jam :|. pagi berangkat 1,5 jam, pulang bisa lebih. apalagi kalo hujan atau force majeur lainnya. emang bener sih kata orang. kerja di Jakarta itu tua di jalan. kalo gue sih ganteng di jalan. #okesip

macetnya Jekardah...

macetnya Jekardah…

nah, berhubung macet udah jadi “makanan” gue tiap pagi, gue ada beberapa tips nih buat menghadapi macetnya jalanan Jakarta biar kita tetep enjoy. dan ganteng tentunya.

1. sabar, jangan kebanyakan mengeluh
yang pertama ini adalah kunci utama buat bikin kita enjoy selama perjalanan. lo ngeluh gimanapun nggak akan mengubah keadaan. lo nglakson kenceng-kenceng juga nggak bakal bikin kendaraan depan lo minggir buat ngasih jalan. orang-orang di jalanan jakarta itu pada nggak mau ngalah. semua ngerasa punya kepentingan yang lebih kalo di jalan. ya termasuk gue juga sih. intinya biar lambat asal selamat~

2. dengerin musik
dengerin musik terbukti mampu meningkatkan mood dan membantu membunuh waktu. lagu yang tepat + momen yang tepat = sempurna. gue pernah lagi nyelip-nyelip di jalanan pake motor sambil dengerin musik, tiba-tiba playlist pas muterin instrumental Requiem for a Dream. epic banget. belom lagi kalo lo wota. lo bisa muter lagu-lagu JKT48 sambil ngechant di jalan. eh itu mah gue ya…
selengkapnya